Senin, 14 November 2011

Hati-hati Perbaiki Gigi Anda!

Hati-hati Perbaiki Gigi Anda!  


Siapa yang tak ingin sehat jasmani maupun rohani? Siapa yang tak ingin tampil sempurna? Segala daya upaya dikerahkan setiap individu untuk memperelok penampilan dari mulai ujung rambut hingga ke ujung kuku.

Nah, ada satu hal lagi yang pasti akan berpengaruh banyak pada penampilan seseorang. Senyum indah yang tercipta dari susunan gigi apik dan sehat.

Gigi dan juga kesehatan mulut sudah disadari sebagian orang sebagai bagian tubuh yang tidak hanya harus dirawat dan dijaga kesehatannya. Tapi, diperbaiki sedemikian rupa agar penampilan makin sempurna.

Menjawab antusiasme masyarakat berbagai tempat perawatan gigi bermunculan. Dokter gigi jadi pilihan satu satunya untuk merawat gigi. Namun tunggu dulu, ternyata dokter bukanlah satu-satunya tempat untuk memperindah bentuk gigi. Ada satu profesi penyedia jasa yang juga dilirik orang, yakni tukang gigi.

Tak sulit menemukan tempat praktik para tukang gigi ini. Di pinggir-pinggir jalan usaha jasa yang hanya mengandalkan keterampilan ini kian menjamur. Namun keberadaan mereka bukannya tak menimbulkan kontroversi. Sejauh mana kompetensi dan keahlian tukang gigi dalam hal memperbaiki masalah gigi dan mulut wajib diketahui lebih dulu oleh calon pasiennya.

Menurut peraturan Menteri Kesehatan kewenangan tukang gigi hanyalah sebatas pada membuat gigi palsu lepasan dan tidak diperbolehkan mengerjakan pekerjaaan lainnya yang menyangkut kesehatan dan keindahan gigi. Lalu apakah aturan main ini dipatuhi oleh para tukang gigi?

Untuk membuktikannya tim Sigi, belum lama ini, sengaja menyambangi salah satu tukang gigi di Jakarta. Di sinilah pelanggaran mulai terlihat. Ternyata si tukang gigi ini menyediakan pula jasa pemasangan kawat atau behel gigi. Jenis perawatan yang sebenarnya dilarang dilakukan tukang gigi tentu dengan harga yang jauh lebih murah dibanding dokter.

Awas! Ikan Asin Berpemutih

Awas! Ikan Asin Berpemutih  


Tidak hanya sayur mayur yang banyak diburu konsumen. Ikan asin juga merupakan salah satu barang dagangan paling laris manis. Dari mulai ikan asin mini, seperti teri, sampai ikan asin berukuran jumbo, seperti ikan pari laris diburu pembeli.

Jika melihat ikan asin di pasar, semua pasti terlihat normal dan baik baik saja. Namun, jika diperhatikan dengan seksama, baru Anda bisa melihat perbedaan antara ikan asin yang masih bagus dan tidak.

Para pengolahan ikan asin di Jakarta Utara mengaku mendapatkan ikan segar dari para nelayan yang baru saja dari laut. Mereka lalu mengolahnya dengan memanfaatkan terik sinar matahari. Cara ini menjadi media alami untuk mengeringkan ikan. Cara tradisional ini pula yang hampir selalu menjadi jurus andalan para pengasin ikan.

Sayang, ada saja pihak yang ingin mendapatkan cara instan untuk menutup atau menghilangkan noda kotoran pada ikan asin. Meski tidak lagi menggunakan formalin untuk memperindah tampilan ikan asin. Namun mereka menggunakan zat kimia berbahaya berupa pemutih atau hidrogen peroksida. Padahal bahan kimia berbahaya ini biasanya hanya digunakan untuk memutihkan kayu, pakaian, dan bahan biang pembersih lantai.

Kenyataan ini memang cukup mengerikan. Apalagi ikan yang sudah diberi pemutih itu juga dikonsumsi masyarakat luas. Penggunaan zat pemutih pada ikan jelas tak jauh beda bahayanya bagi kesehatan dibanding penggunaan formalin.

Penggunaan zat kimia berbahaya hidrogen peroksida atau yang populer dengan sebutan cairan pemutih terhadap ikan asin teryata sudah berlangsung cukup lama. Pemasarannya pun tidak hanya di wilayah Jakarta. Para pelaku biasanya juga memasarkannya ke wilayah Bogor, Cianjur, dan Bandung, Jawa Barat.

Ironisnya, penjualan zat pemutih berbahaya dapat dengan mudah diperoleh di sejumlah toko kimia. Ini membuat para pedagang mudah memperolehnya. Untuk mengelabui masyarakat, pedagang biasanya menyelipkan ikan asin berformalin dengan ikan yang tak mengandung zat kimia. Kebanyakan pembeli tak mengetahui jika ikan asin yang mereka beli mengandung pemutih.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengingatkan masyarakat untuk tidak terkecoh dengan membeli penganan berbahaya yang mengandung zat kimia berbahaya. Peredaran zat kimia yang dapat membahayakan seharusnya diatur pihak yang berwenang. Tindakan hukum juga diperlukan untuk menjamin para konsumen.(APY/ULF)

Waspada...! Air Galon Palsu  


 Air minum adalah kebutuhan pokok yang tak bisa ditawar-tawar. Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang, setiap hari dibutuhkan dua sampai tiga liter air minum. Maka, pemandangan jamak akan terlihat setiap hari, semisal minum di tengah perjalanan, usai berolahraga, dan minum ditengah aktivitas lainnya. 

Karena itu pula, berbagai cara dilakukan orang untuk memenuhi kebutuhannya akan air minum. Survei yang dilakukan Tim Sigi di kawasan Yogyakarta, misalnya, memperlihatkan buruknya kualitas air tanah di sejumlah wilayah Bantul yang mau tak mau memaksa sebagian warga beralih pada air kemasan untuk minum. Tak heran, air minum dalam kemasan laris manis dan jadi primadona.

Namun, hal ini pula yang kemudian harus jadi perhatian. Hati-hati, makin laku suatu produk maka makin besar risiko pemalsuan oleh orang-orang tak bertangung jawab. Lihat saja kasus pemalsuan air isi ulang yang terjadi disebuah rumah kontrakan di Dusun Tangkil Srihandono Pundong, Bantul.

Kasus ini terbongkar dari kecurigaan warga terhadap aktivitas penghuni yang sering membawa galon kosong saat sore hari dan esoknya galon-galon itu sudah berisi air yang siap dipasarkan. Ternyata, air isi ulang itu berasal dari sumur. Praktik culas ini hampir dua bulan dijalankan pelaku.

Untuk membuktikan fakta di lapangan seputar pemalsuan air kemasan ini, Tim Sigi menelusuri warung-warung yang pernah ditawarkan pelaku. Awalnya tak ada jejak pemalsuan air isi ulang. Tak menyerah, kami mengendus lebih jauh. Fakta ini kami dekatkan dengan lokasi pembuatan air galon palsu dimana ada keterangan janggal yang diberikan pemuka warga berkaitan kegiatan dalam rumah kontrakan pelaku yang digerebek polisi.

Berbekal informasi dari sejumlah warung yang sempat memperjualbelikan air isi ulang rekayasa, yaitu air mentah yang dicampur air matang ini dan juga keterangan dari sejumlah warga, Tim Sigi bergerak cukup jauh meninggalkan lokasi Pundong. Tim mendatangi sebuah rumah yang dicurigai masih memproduksi air galon palsu. Bukti-bukti mencurigakan ditemukan di sini.

Sayangnya, Tim Sigi kesulitan mencari bukti yang lebih kuat, semisal produksi air isi ulang palsu yang tengah berlangsung. Dugaan kuat, karena tengah menjadi sorotan setelah penggerebekan salah satu lokasi pengoplos air galon palsu, sang pelaku "tiarap" dulu.

Namun, upaya menggali kebenaran seputar air galon palsu terus dilakukan. Lihat dan jangan terkecoh, galon-galon air minum ini sebenarnya palsu. Kemasan air isi ulang ini disita polisi menyusul terbongkarnya praktik ilegal air isi ulang oplosan yang dikerjakan sindikat yang dikomandani oleh Joni.

Joni dan dua sekondannya dibekuk polisi saat memproduksi air isi ulang dari air sumur di rumah kontrakannya di Dusun Tangkil Srihardono Pundong, Yogyakarta. Agar meyakinkan konsumen, galon, merek, dan tutup segelnya tetap memakai label produk resmi yang asli. Tak heran sepintas air tampak bersih dan layak konsumsi. Untuk menghindari kecurigaan, tersangka menjualnya ke warung di wilayah pinggiran kota, seperti Jetis, Sleman, dan Kulon Progo.

Angka galon isi ulang yang telah mereka pasarkan jumlahnya cukup mencengangkan. Sedikitnya sekitar 1.000 galon air isi ulang telah dibuang ke pasaran dalam waktu singkat dua bulan beroperasi. Sejauh ini produk air kemasan yang paling diincar para pelaku adalah produk merek terkenal. Alasannya, gampang menjualnya ketimbang memalsukan produk lain.

Jaringan pemalsu melebar tak hanya di Bantul. Telunjuk informan Sigi pun mengarah ke Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Di sini kami dipertemukan dengan seorang pemalsu air minum kemasan yang masih beroperasi. Bedanya, air yang dipalsukan didapat dari depo air isi ulang miliknya, namun menggunakan galon label dan penutup yang seolah-olah asli galon produk air kemasan terkemuka.

Hasil uji laboratorium menjelaskan dengan gamblang tentang kandungan air minum kemasan maupun isi ulang yang tak melalui proses sterilisasi sesuai standar. Untuk mengetahui kandungan air produksi Joni dan rekannya yang menggunakan air sumur dioplos air matang, Tim Sigi membawa sampel air itu ke laboratorium Dinas Kesehatan Bantul. Pengujian menggunakan Standar Nasional Indonesia dengan parameter unsur bakteriologis dan kimia.

Langkah pertama, analis laboratorium mengambil sampel dari sumber air sumur yang diduga tidak layak konsumsi menggunakan botol yang sudah disterilkan supaya tidak terkontaminasi bakteri lainnya. Bakteri kemudian dimasukkan ke dalam act incubator yang berfungsi sebagai pemanas dan didiamkan dalam waktu tertentu. Suhu pun harus terjaga benar 36 derajat Celcius. Hasilnya, uji air minum kemasan produksi Joni sangat tidak sehat untuk dikonsumsi.

Untuk mengetahui air ini mengandung bakteri, sampel yang telah diendapkan 48 jam harus diencerkan melalui proses pemanasan untuk kemudian dipindahkan ke tabung reaksi yang tumbuh bakteri. Tahap berikutnya dilakukan uji untuk mengetahui ada tidaknya bakteri ekoli dan koli tinja dalam kandungan air.

Sampel yang telah diuji dibekukan sebelum disimpan di inkubator dalam suhu 37 derajat Celcius untuk uji bakteri ekoli dan 44 derajat Celcius untuk bakteri koli tinjanya selama 48 jam. Seperti sudah diduga sebelumnya, air kemasan produksi Joni positif mengandung bakteri ekoli.

Meski sudah banyak kasus yang terungkap, Asosiasi Pengusaha Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) maupun Yayasan Lembaga Konsumen Yoyakarta mengeluhkan rendahnya sanksi hukum bagi para pelaku. Yayasan Lembaga Konsumen Yogyakarta hanya bisa mengeluarkan rekomendasi seputar antisipasi air kemasan palsu yang beredar di Tanah Air.

Kasus-kasus pemalsuan air kemasan maupun penipuan konsumen seputar air isi ulang yang sempat kami investigasi menjadi bukti bahwa perlindungan konsumen belum bisa dipertanggungjawabkan di negeri ini. Alangkah baiknya jika urusan air minum yang memenuhi harkat orang banyak ini segera dicari jalan keluarnya oleh pemerintah. Karena kami, masyarakat Indonesia butuh air minum yang bersih dan sehat. Simak selengkapnya investigasi Tim Sigi dalam tayangan video program Sigi edisi Sabtu, 14 Mei 2011. Selamat menyaksikan.(ADO)

Sulitnya Bedakan Bakso Tikus dan Sapi

Sulitnya Bedakan Bakso Tikus dan Sapi  


 Mi bakso menjadi jajanan favorit. Warga dari berbagai kalangan dan usia banyak yang menyukai menu ini. Daging kenyal nan gurih sangat mengundang selera. Mi bakso merupakan makanan relatif murah dan cukup terjangkau. Saking populernya, jajanan ini banyak dijumpai di seluruh pelosok negeri.

Para pedagang bakso biasanya membeli bahan olahan seperti daging sapi. Inilah yang merupakan bahan utama pembuatan bakso di pasar. Pilihan beragam mulai dari kualitas yang rendah sampai kualitas terbaik. Semua bisa didapat di sentra pasar daging.

Selain daging sapi, ada juga los-los tertentu yang menyediakan bumbu yang biasa digunakan untuk bakso. Dari tepung terigu sampai bahan pengawet dijual bebas. Bahan kimia jenis benzoat biasa digunakan untuk mengawetkan juga membuat daging bakso lebih kenyal. Di mana bila digunakan tak sesuai aturan maka akan sangat berbahaya bagi tubuh.

Kebutuhan para pecinta kuliner mi bakso yang begitu besar, dimanfaatkan sejumlah pedagang bakso nakal. Mereka melakoni berbagai tipu daya. Supaya mendapat untung berlipat-lipat, mereka mencampur bakso dengan daging sapi palsu.

Seorang informan membisikkan sebuah informasi mengejutkan sekaligus menjijikkan. Daging bakso berbahan dasar tikus beredar di kawasan Jawa Tengah. Tim SIGI langsung menginvestigasi sebuah tempat di Jateng, berupaya melacak pedagang nakal.

Dari hasil investigasi, dijumpai seorang sedang berburu berbekal senapan angin dan senter. Target lokasi bukan hutan, melainkan tempat pembuangan sampah. Layaknya penembak jitu, sekali bidikan nyawa seekor binatang pengerat pun melayang.

Tak lama si pemburu mengutip hasil buruan tanpa rasa jijik. Akhirnya .... jelang dini hari si pemburu pulang membawa hasil buruan. Hewan pengerat sebagai bahan dasar bakso sudah di tangan. Kini tinggal memberi sentuhan campuran daging sapi untuk mengelabui. Tujuan berikutnya pasar daging.

Trik kotor pencampuran daging hewan pengerat dengan daging sapi sangat tak terpuji. Parahnya lagi, si pelaku menambahkan zat kimia benzoat dan borax dalam jumlah yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Nah sekarang lokasi pembuatan bakso. Daging serta bumbu telah disiapkan untuk segera diolah menjadi satu. Persiapan yang cukup matang. Aroma menyengat dan memualkan mulai tercium dari bangkai tikus. Perut langsung bergolak menahan mual yang amat sangat.

Agar bisa tercampur sempurna dengan daging sapi hasil gilingan, seekor binatang pengerat terlebih dulu dibersihkan. Cara paling praktis dan mudah dengan dibakar untuk membersihkan bulu. Tapi pilihan ini berisiko besar karena bisa ketahuan tetangga.

Bukan penipu kalau tak bisa menyiasatinya. Untuk menghilangkan asap dan bau yang cukup menyengat, cara lain digodok selama 15 menit. Agar bisa tercampur sempurna dengan daging sapi, daging palsu terlebih dahulu diblender sampai halus. Proses pencampuran diupayakan sampai rata agar tersamar dengan daging sapi hasil gilingan.

Tak lama jadilah bakso. Palsu tentunya. Dari warna, kekenyalan, serta bau sulit dibedakan dengan bakso sapi asli. Cara ini terpaksa diambil mengingat banyaknya penggemar bakso.

Keberadaan bakso tikus membuat gerah pedagang bakso yang terhimpun dalam Paguyuban Pedagang Mi Bakso di kawasan Kota Semarang, Jateng. Mereka bereaksi menanggapi pedagang mi bakso yang memakai bahan dasar daging tikus. Pedagang bakso keliling pun protes.

Pedagang bakso yang menjalankan usaha dengan halal tentunya geram terhadap hal ini. Mereka lantas minta dijatuhkan sanksi yang berat kepada oknum pembuat dan pedagang bakso berbahan campuran binatang pengerat.

Minimnya pembinaan kepada pedagang bakso menjadi salah satu penyebab penyalahgunaan daging hewan pengerat ini. Mereka tak tahu atau bahkan tak mau tahu dampak negatif bagi kesehatan bila dikonsumsi manusia.

Bagi konsumen, harus benar-benar perhatikan aroma, tampilan warna, rasa, dan yang terakhir harga. Jangan mudah tergoda dengan harga murah. Ingat waspada dan teliti dalam memilah makanan yang anda konsumsi.(AIS)

Jebakan Gorengan Berbumbu Plastik

Jebakan Gorengan Berbumbu Plastik  


Surga makanan berbasis gorengan bisa Anda jumpai dimana-mana. Karenanya penikmat gorengan tak akan pernah khawatir makanan renyah dan gurih ini hilang di pasaran. Pasalnya, usaha ini juga digandrungi banyak pedagang. Penganan yang dijual sederhana ini, tak membutuhkan banyak keakhlian untuk membuatnya, cukup bermodal bahan baku seperti tempe, tahu plus sedikit bumbu dan minyak goreng.

Meski belakangan pola hidup dan pola makan terutama masyarakat perkotaan mulai berubah, salah satunya menghindari makanan mengandung lemak ataupun minyak, penggemar gorengan tak jua surut. Cara menikmatinya pun beragam, ada yang asal comot saja buat cemilan, tapi ada pula yang menjadikannya layaknya ritual. Menyeduh teh dan kopi panas rasanya tak lengkap jika tak disajikan bersama penganan gorengan.

Salah satu pedagang gorengan adalah Wirta. Belasan tahun ia menjajakan penganan gorengan di wilayah Jakarta Pusat. Ia mengaku trik ataupun resep dia dapatkan dari kerabatnya, yaitu penganan berbahan baku tepung terigu, sayuran bahkan bumbu untuk melezatkan gorengannya.

Dengan modal Rp 300 ribu dagangan gorengannya bergulir tiap hari. Wirta pun hanya mematok harga yang sangat murah, yakni Rp 500 per satu gorengan. Bisa dibayangkan betapa kecil Wirta mengambil keuntungan. Tapi ia yakin setiap pedagang akan mendapat rezekinya jika berjualan dengan jujur dan mementingkan kualitas.

Namun, berjualan dengan cara jujur tak melulu menarik perhatian pedagang. Trik menjerat pembeli juga tak selalu dengan cara yang sportif. Disinyalir ada segelintir pedagang gorengan nakal yang menggunakan bahan kimia dicampur minyak goreng dengan jumlah yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Padahal, upaya curang seperti itu bukan hanya merugikan konsumen tapi ada bahaya lain mengintai.

Rumor tak sedap itu menyebutkan bahwa minyak goreng yang digunakan ternyata ada yang dicampur plastik. Untuk membuktikan kebenaran berita itu, salah satu pemain, pedagang gorengan yang kabarnya menggunakan minyak goreng berbumbu plastik, ditemui Tim Sigi untuk menyerap informasi lebih jauh seputar proses pembuatannya.

Langkah awal belanja kebutuhan bahan-bahan baku untuk membuat penganan gorengan. Bahan utama dari kudapan gorengan, yakni tempe, tahu, tepung terigu juga bumbu penyedapnya satu persatu dibeli.

Proses olahan pun dimulai. Sang pedagang mengupas, memotong, menyiapkan bahan baku terlebih dulu. Proses pembuatan dilanjutkan membuat olahan bumbu untuk gorengan. Biasanya ada sebagian pedagang yang menggoreng dagangannya di rumah. Ketidaklaziman muncul disini. Plastik yang biasanya digunakan untuk membungkus tiba-tiba dicampurkan sang pedagang kedalam minyak gorengannya.

Berbagai macam penganan gorengan yang juga bisa dijadikan lauk itu siap dijajakan. Catatan pentingnya penganan ini sudah terkontaminasi plastik. Namun, si pedagang nakal inipun mau memberikan bocoran cara membedakan penganan yang diproses dengan minyak goreng bercampur plastik.

Lalu bagaimana akibatnya jika gorengan mengandung plastik dikonsumsi oleh manusia? Jelas-jelas itu berbahaya dan bisa mengundang penyakit serius. Plastik dinilai mengandung racun yang tinggi dan diklasifikasikan sebagai bahan kimia yang bisa menyebabkan penyakit kanker.

Secara kasat mata dan pengetahuan umum sungguh aneh dan sangat tak lazim makanan digoreng dalam minyak yang dioplos plastik. Ini jelas tak higienis dan tak layak dikonsumsi.

Tak ingin gegabah dan terlalu cepat mengambil kesimpulan, sampel penganan gorengan diambil untuk ditelisik. Sampel berupa tahu goreng, tempe goreng dan ubi goreng dibawa untuk dilakukan uji laboratorium di Laboratorium Badan POM di Jakarta.

Langkah awal proses uji laboratorium sejumlah sampel penganan gorengan difoto menggunakan alat near infra red atau screening terhadap tempe yang digoreng dengan minyak yang diduga bercampur plastik. Kedua dengan menggunakan kromatografi gas massa untuk memastikan jenis plastik apa yang terkandung dipenganan gorengan tempe dan tahu. Dan hasilnya sudah bisa ditebak, tempe maupun tahu buatan seorang pedagang gorengan nakal terindikasi terlarut plastik jenis polietilen.

Ini membuktikan kedua makanan tersebut sudah tak layak konsumsi. Selain dampak negatif jangka panjang terhadap kesehatan tubuh, ternyata efek jangka pendek juga bisa dirasakan pada beberapa orang yang sensitif atas penggunaan bahan kimia tertentu.(IAN)

Awas Sampah Obat!

Awas Sampah Obat!  


Kesehatan adalah investasi paling berharga dalam hidup. Kala tubuh sedang lemah atau terserang penyakit karena tertular virus, alternatif umum yang kerap dilakukan adalah memeriksakan penyakit ke dokter di rumah sakit ataupun klinik.

Dengan berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter, jika tak sehat, salah satu langkah yang biasa dilakukan dokter adalah memberi resep obat dengan takaran yang telah ditentukan. Tugas pasien, tentu saja menebusnya di apotek, tempat penjualan obat resmi.

Namun, ada obat-obat tertentu yang dijual bebas (tanpa resep) dan bisa dengan mudah didapatkan di toko atau warung obat. Dari survei secara acak yang dilakukan timSigi, beredar berbagai jenis obat yang telah kedaluwarsa alias tak layak konsumsi dan diperjualbelikan di warung-warung pinggiran di kawasan Jawa Tengah.

Yang lebih mengerikan lagi, obat-obatan kedaluwarsa itu didapat dari pemulung yang mengumpulkannya di tempat pembuangan sampah atau pembuangan limbah sebuah rumah sakit.

Siang hari, biasanya para pemulung mulai mengais sampah. Jika beruntung, gerobak mereka bisa penuh dengan obat-obatan. Petangnya, mereka melego temuan "harta karun" itu di sebuah lokasi yang sudah ditentukan. Di sana, mereka sudah ditunggu oleh pengepul sekaligus pengolah obat kedaluwarsa.

Lokasi mengolah obat umumnya terdapat di pemakaman. Pengolah obat telah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum masuk ke makam. Layaknya seseorang yang akan berziarah agar juru kunci pemakaman tak curiga.

Tempat yang sepi dari perhatian masyarakat ini memungkinkan si pengolah untuk menyulap obat kedaluwarsa yang kotor dan sudah rusak menjadi baru kembali dengan cairan khusus. Si pengolah obat seperti seorang profesional di bidang obat-obatan. Hanya melihat warnanya saja, ia dapat mengenali nama dan jenis obat.

Tak mudah menjual obat kedaluwarsa atau bodong ke warung langganan bila tidak ada perjanjian dengan para pemilik untuk mengakali para pembeli.

Menyimak perkembangan yang tak baik dari beredarnya obat kedaluwarsa, Dinas Kesehatan Kota Semarang sama sekali tidak menyarankan mengonsumsi obat kedaluwarsa ataupun yang didapat melalui bukan resep. Karena bukannya sehat, malah bahaya bagi kesehatan yang bisa dituai.(ASW/ANS)

Awas, Cendol Berboraks!

Awas, Cendol Berboraks!  


 Setelah berpuasa sehari penuh, makanan atau minuman berbuka yang menyegarkan begitu didamba. Jenisnya pun beraneka macam. Mulai dari kue-kue beraneka ragam bentuk dan warna. Sampai minuman seperti es cendol atau dawet. Semua terlihat sehat sebagai santapan berbuka puasa.

Apalagi pedagang yang menjajakan sajian berbuka puasa, mereka bertebaran hampir di tiap sudut kota. Tapi terkadang tampilan luar menjadi perangkap makanan yang tidak sehat. Buat membuktikannya, Tim Sigi mengikuti seorang penjual cendol di salah satu kota kecil di Jawa Tengah. Informasi yang didapat, pedagang satu ini menggunakan bahan kimia berbahaya seperti bleng atau yang lebih dikenal dengan boraks.

Bahkan narasumber Tim Sigi menyebutkan, bahan pewarna tekstil kerap dicampurkan dalam dawet yang dijual. Dengan kamera tersembunyi, tim bergerak mendekati sang pedagang. Tim lalu membeli satu porsi es cendol untuk uji laboratorium. Dan ternyata hasilnya sesuai dugaan.

Bukti otentik laboratorium sudah didapat. Tapi tim harus membuktikan bagaimana tindakan curang dipratikkan. Negosiasi pun dilakukan dengan si pedagang nakal. Tak lama berselang, didapat persetujuan. Pak Giman, penjual es dawet menuturkan kisah, telah menjajakan dagangannya selama dua tahun. Profesi ini terpaksa dijalani karena desakan ekonomi. Terlebih sebelumnya usaha Giman hancur beberapa tahun silam.

Sayangnya, Giman memilih jalan pintas untuk meraup keuntungan selangit. Yakni dengan mengorbankan konsumen yang tak paham bahayanya bagi keselamatan jiwa. Tampilan luar dawet yang dijual Giman berwarna hijau dan terlihat segar. Namun hasil uji laboratorium membuktikan, dawet dagangan si penjual mengandung boraks dan pewarna tekstil.

Dengan kamera tersembunyi, Tim Sigi mengikuti Giman ke pasar untuk membeli bahan dasar cendol. Bahan pengenyal dan pengawet yang dicari adalah boraks. Bleng adalah bentuk tidak murni dari boraks yang dalam dunia industri adalah bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu, dan pengontrol kecoak.

Bayangkan, bahan inilah yang digunakan sebagai pencampur makananan. Apalagi tak sulit menemukan bleng karena dijual bebas. Dari hasil survei acak ke beberapa pedagang, penggunaan bleng atau boraks di kalangan pembuat makanan tradisional lumayan dikenal.

Setelah urusan di pasar beres, Giman bergerak ke sebuah toko bangunan. Sungguh aneh, bahan pembuat makanan dicari di tempat yang tak semestinya. Bahan yang dibeli adalah tawas dan wanter yang biasa digunakan sebagai pewarna tekstil. Tentu saja, bahan kimia ini tak lazim untuk campuran makanan.

Tiba di rumah, Giman tak berlama-lama menyiapkan bahan yang dibutuhkan. Tangan cekatan Giman bekerja. Tak butuh waktu lama, dawet racikan lengkap dengan boraks dan bahan pengawet tekstil siap tersaji. Tinggal menyiapkan santan dan air gula sebagai pelengkap.

Buat yang satu ini, Giman kembali menggunakan jurus akal-akalannya. Ia menyiapkan santan abal-abal. Bukan dengan sari kelapa, tapi dengan tepung yang diracik sedemikian rupa menyerupai santan asli.

Tetapi hasil santan abal-abal tidak bisa tercampur dengan baik di air matang. Tidak kurang akal, Giman menggantinya dengan air mentah sebagai bahan dasar. Setelah semua siap, Giman pun berkeliling menjajakan es dawet.

Pengawasan terhadap pedagang cendol seperti Giman, tentu jarang dilakukan. Apalagi bleng dijual terbuka di pasar tradisional. Apapun alasannya, seharusnya pemerintah memberikan pengawasan lebih baik bagi penggunaan bahan kimia berbahaya.

Pembuatan cendol dengan bleng sebagai pengenyal dan pengawet, diakui Giman, dilakoni pula oleh pedagang cendol lain. Ironis. Ternyata sudah bertahun-tahun, bleng menjadi bahan campuran es dawet di sebagian pedagang dawet.

Sementara dawet adalah minuman khas Jateng yang sudah ada sejak puluhan tahun silam. Sejatinya, dawet hanyalah berbahan dasar tepung beras ataupun sari pati buah aren. Dengan menggunakan bahan-bahan alami dan diolah secara tradisional, rasa-rasanya dawet sudah cukup lezat untuk dikonsumsi.

Apalagi di bulan puasa seperti saat ini. Dawet dipercaya mampu mengembalikan kesegaran setelah satu hari penuh berpuasa. Tapi tak semua penjual dawet berbuat nakal. Masih banyak pembuat dan penjual dawet yang bertanggung jawab.

Seperti yang dilakukan Wiyono. Pria berusia 27 tahun ini berjualan es dawet tanpa bahan pengawet atau pemanis buatan. Wiyono lebih menyiasati dagangan agar tampilan dan rasa lebih menarik, dengan menambahkan ketan sebagai campuran dawetnya.

Dengan begitu, Anda harus pandai-pandai memilih produk makanan atau minuman yang akan dikonsumsi. Sebagai bahan makanan, boraks tidak aman dikonsumsi. Seringnya mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati serta ginjal. Dan jika dikonsumsi sangat berlebihan, dapat menyebabkan pingsan hingga kematian.

Berikut tips mengonsumsi dawet yang aman untuk anda. Pertama, pilih dawet berwarna putih atau warna lain yang tak mencolok. Kedua, konsumsi dawet yang menggunakan pemanis alami, bukan sintetis. Bila bukan pemanis alami, biasanya ditandai adanya rasa pahit. Atau biasanya setelah dikonsumsi tenggorokan terasa kering dan gatal.

Kemudian yang terakhir, perhatikan rasa santan dari dawet. Santan yang baik dari sari kelapa biasanya gurih, tak terlalu asin dan asam. Di luar rasa itu dikhawatirkan menggunakan santan palsu.(AIS)